|
Berbagai teori soal siapa pelaku aksi teror di Amerika telah
bermunculan. Pemerintahan Negeri Paman Sam itu sendiri kian santer
menuding jutawan asal Arab Saudi Osama bin Laden sebagai biang
pelakunya. Lantas kenapa nama Gus Dur bisa terkait? Djalaludin
Rahmat punya sejumlah teori.
"Yang jelas, pelakunya selain gila, profesional, dia juga
harus pintar," kata Dr H Djalaludin Rahmat, pengamat politik
dan ahli komunikasi saat ditemui wartawan di Bandung, Senin
(19/9/2001).
Kang Djalal, panggilan akrabnya, punya sejumlah teori soal dalang
aksi teror terheboh dalam sejarah itu yang diperolehnya dari
menganalisis informasi, pemberitaan dan fakta-fakta. Sedikitnya ada
6 teori "sahih" dan satu teori "guyon" yang bisa
dikumpulkannya.
Berikut paparan dan analisisnya:
Pertama, aksi teror memang dilakukan Osama bin Laden dibantu
sejumlah teroris lainnya. "Dan memang ini yang dibeli kemudian
dijual oleh AS dan Israel melalui pemberitaannya di
media-media," katanya.
Namun teori ini mempunyai banyak kelemahan, yaitu sang teroris
itu harus teramat pintar. Di sisi lain, Paman Sam teramat bodoh
untuk tidak mengatakan "goblok". "Karena itu,
dua-duanya tidak bisa diterima. Betul sang teroris itu pintar, tapi
tidak teramat pintar. Begitu juga AS, tidak bisa dia dikatakan
terlalu bodoh," katanya.
Teori kedua, di AS memang ada milisia yang anti kemapanan
(establishment). Hal ini sudah diungkapkan oleh Dr Zaki Badawi,
Rektor Moslem University di London Inggris. "Sebetulnya teori
ini masuk akal, tetapi karena tidak pas dengan selera AS atau
pemberitaan media massa, akhirnya tidak lagi terlalu di-blow
up" dalam pemberitaan," katanya.
Ketiga, aksi teror dilakukan oleh kelompok militer di AS yang
marah karena budget anggaran militer dipangkas drastis oleh Presiden
Bush. "Mereka marah karena proyek perlindungan keamanan dalam
negerinya juga ditolak oleh Kongres," papar Kang Jalal lagi.
Keempat, adanya aksi konspirasi bersama yang dilakukan oleh
masyarakat Yahudi internasional untuk menghancurkan lawan-lawannya
di Timur Tengah. "PM Israel Ariel Sharon pernah menegaskan
tekadnya untuk membasmi habis aksi perlawanan yang menentang
negaranya," tegas Kang Jalal.
Konspirasi semacam ini terlihat dari upaya terus-menerus untuk
menyudutkan masyarakat Arab dan Islam, sebagai pelakunya. Di situ,
Kang Jalal mensinyalir keterlibatan stasiun berita TV CNN. "Misalnya
soal manivest pesawat yang belum diumumkan secara terbuka, CNN sudah
mengumumkan adanya nama-nama Arab yang dicurigai," paparnya.
Meski kemudian soal nama Bukhari bersaudara yang semula juga
dimunculkannya didebat karena ternyata yang bersangkutan masih hidup,
CNN ternyata tidak ada itikad baik meralatnya di dalam pemberitaan
TV. "Mereka hanya meralatnya melalui CNN.Com di internet,"
kata Kang Jalal lagi.
Belum lagi, soal tayangan berulang kali stasiun TV ini yang
menyoroti ambulans "Yahudi" yang hilir mudik berulang
kali. "Itu diulang-ulang terus oleh CNN," katanya.
Dengan konspirasi demikian, termasuk lobi Yahudi yang kuat di
pemerintahan AS, Israel ingin menjadikan semua musuhnya sebagai
lawan bersama AS dan negara-negara barat lainnya. "Kalau hanya
satu orang Osama bin Laden, masa harus dilawan sampai sebegitunya.
Karena itu, akan digiring opininya sehingga yang namanya kelompok
teroris itu adalah Libya, Libanon, Irak, dan lainnya," tegas
Kang Jalal lagi.
Padahal, opini yang akan diciptakan itu akan dengan mudah
dibantah karena pada kenyataannya kebanyakan orang Islam sendiri
tidak terlalu pintar untuk melakukan serangan semacam itu. "Jujur
saja, kebanyakan orang Islam kan tidak terlalu pintar," katanya
lagi.
Teori kelima, yang melakukan serangan teror itu justru
pemerintahan Presiden Bush untuk mengangkat kembali popularitas dan
mempersatukan rakyat AS. "Presiden Bush mengalami kegagalan
membangkitkan ekonomi AS yang dilanda resesi. Polling soal
popularitasnya pun turun drastis," tutur Kang Jalal.
Karena krisis legitimasi itulah, bisa jadi dibuat satu skenario
untuk mempersatukan kembali rakyat AS dan mengangkat popularitasnya.
"Dari sisi itu, Bush sudah berhasil. Bahkan Kongres yang
biasanya menentang, sudah berhasil dirangkulnya. Bush dengan bangga
kemudian menyatakan bahwa dengan insiden itu, ‘we are now really
united,’ – kami sekarang betul-betul bersatu," tegas Kang
Jalal.
Di sisi lain, tidak bisa disangkal lagi bahwa ekonomi AS
sebetulnya sangat banyak ditopang oleh industri persenjataan. Dengan
tidak adanya konflik dan peperangan, membuat industri itu terpukul.
Selain itu, dalam pengamatan Kang Jalal, politik luar negeri AS
sangat tergantung dengan adanya figur musuh negara. "Dahulu ada
Uni Sovyet, ada Ayatullah Khomeini, Saddam Hussein, Muammar Khadaffi,
dan lainnya. Semuanya kurang bergema saat ini, maka diciptakanlah
musuh baru bersama bernama Osama bin Laden," katanya
mencontohkan.
Teori keenam, adalah dengan adanya pengakuan Tentara Merah Jepang
yang membalas dendam atas pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. "Tetapi
AS tidak mau membeli itu, karena itu berarti harus mengajak
rakyatnya memusuhi rakyat Jepang. Media barat pun tidak mau
mengangkat itu. Justru Osama bin Laden yang tidak mengaku melakukan
yang tetap diangkat-angkat dalam pemberitaan. Tetapi soal klaim
Tentara Merah Jepang, sama sekali tidak digubris," paparnya.
Keenam teori itu, menurutnya bisa masuk akal tetapi bisa juga
"teori gila". Dari "teori gila" yang ada itu,
Kang Djalal lebih cenderung bahwa lobi Israel dan Yahudi yang paling
kuat alasan, latar belakang, maupun dari sudut teknis pelaksanaannya.
Karena semuanya berbasis "teori gila", katanya, masih
ada satu teori gila lagi yang bisa saja dimunculkan karena memiliki
tesis yang sama. "Bisa saja pelakunya Gus Dur, yang marah
karena dilengserkan oleh AS dari kursi kepresidenan. Karena Gus Dur
itu seorang wali, maka dikerahkanlah Pasukan Berani Mati dan pasukan
jin untuk membawa pesawat itu menabrak WTC dan Pentagon," kata
Kang Djalal.
Tujuh Teori Terrors Dahsyat AS Versi
Djalaludin Rahmat detikcom - Bandung/18-09-2001, 06.01
|